SAMOSIR, Sinar24jam.com-
Di bawah langit malam yang dihiasi bintang, tujuh mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan tampak serius berdiskusi di bibir Pantai Lumban Manik, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Bukan sekadar menikmati angin Danau Toba, pertemuan ini menjadi bagian dari kegiatan lapangan yang terencana dan bertujuan strategis.
Kegiatan tersebut merupakan wujud pelaksanaan program akademik bernama Field Project Study (FPS) yang diikuti mahasiswa semester 6 Program Studi Destinasi Pariwisata. Mengusung tema besar “Go Green Go Culture”, mereka merangkul para pelaku usaha lokal untuk bersama-sama merumuskan langkah pengembangan desa wisata.
Pantai Lumban Manik yang menjadi lokasi kegiatan ini memiliki potensi besar sebagai salah satu permata tersembunyi di kawasan Danau Toba. Dengan pemandangan perairan yang tenang dan latar bukit yang asri, tempat ini menjadi ruang belajar nyata bagi para mahasiswa untuk memahami dinamika pengelolaan destinasi wisata. Dalam diskusi tersebut, para mahasiswa dan pelaku usaha saling bertukar pandang mengenai bagaimana menjaga kelestarian lingkungan sekaligus melestarikan nilai budaya setempat sebagai daya tarik utama.
Tim yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri dari Kristin Jesika br Samosir, Cindy Margaretta Naibaho, Kiki Heriwanto Sinaga, Ferry Cahyadi, Octalexa G.V Sitanggang, Syalomitha Priskila Bintang, dan Anggi Viola Damanik. Melalui studi lapangan ini, mereka tidak hanya mengasah kemampuan analisis akademis, tetapi juga belajar membangun kolaborasi dengan masyarakat.
Inisiatif ini menjadi bukti bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya bicara soal infrastruktur, melainkan juga bagaimana menyatukan kepentingan ekonomi, lingkungan, dan budaya. Pantai Lumban Manik kini tak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga laboratorium hidup yang melahirkan gagasan-gagasan baru untuk kemajuan pariwisata di Pulau Samosir.















