Example floating
Example floating




BeritaSosialisasi

320 Hektare di Atas Kertas, 20 Hektare di Lapangan: Ujian Nyata Ambisi Bawang Putih Samosir

10
×

320 Hektare di Atas Kertas, 20 Hektare di Lapangan: Ujian Nyata Ambisi Bawang Putih Samosir

Sebarkan artikel ini

Samosir, Sinar24jam.com

Ambisi menjadikan Samosir sebagai sentra bawang putih nasional kini memasuki fase krusial: dari janji dan desain kebijakan menuju realisasi di lapangan. Kunjungan Bupati Vandiko T. Gultom bersama tim lintas kementerian ke Kawasan Pertanian Terpadu (KPT) menegaskan dukungan pusat—namun sekaligus membuka pertanyaan mendasar tentang kesiapan riil.

Rombongan yang terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II meninjau langsung sumber air, jaringan irigasi, hingga akses kawasan. Dukungan listrik dari Perusahaan Listrik Negara juga disiapkan untuk operasional pompa air—indikasi bahwa fondasi teknis proyek ini masih dalam tahap penguatan, ( 5/5).

Target yang dicanangkan tidak main-main: 320 hektare lahan untuk pengembangan bawang putih. Namun realisasi di lapangan baru menyentuh sekitar 20 hektare di Desa Maduma, Kecamatan Simanindo. Sisanya, sekitar 300 hektare di kawasan Hariara Pintu, masih berada pada tahap rencana.

Kesenjangan antara target dan capaian awal itu menjadi sorotan. Sebab dalam banyak program pertanian, titik rawan bukan pada perencanaan, melainkan pada konsistensi eksekusi.

Asisten Deputi Kemenko Pangan, M. Saleh, menegaskan bahwa program ini tidak boleh berhenti pada narasi optimisme.
“Target kami jelas: akhir Mei sudah ada penanaman 5 hektare. Ini harus konkret, bukan sekadar wacana,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kesuburan lahan, tetapi oleh kesiapan sumber daya manusia—petani dan kelompok tani yang menjadi ujung tombak program.

“Pendampingan harus intensif. Tanpa itu, target produktivitas 20 ton per hektare hanya akan menjadi angka ambisius tanpa realisasi,” katanya.

Di sisi lain, Bupati Samosir Vandiko T. Gultom menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah untuk memenuhi seluruh kebutuhan pendukung. Ia menilai program ini sebagai bagian dari kontribusi daerah terhadap agenda ketahanan pangan nasional.

“Kami siap. Tapi tentu butuh pendampingan berkelanjutan agar program ini benar-benar berhasil,” ujarnya.

Namun publik tidak hanya menunggu kesiapan—mereka menunggu hasil. Infrastruktur yang belum sepenuhnya rampung, kebutuhan air yang harus stabil sepanjang musim, serta kesiapan petani yang masih perlu diperkuat menjadi tantangan nyata yang tidak bisa ditunda.

Ambisi besar ini kini berada di titik penentuan:
apakah akan menjadi tonggak baru kemandirian pangan dari kawasan Danau Toba,
atau kembali menjadi daftar panjang program yang kuat di awal, namun melemah dalam pelaksanaan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan tidak diukur dari luas rencana, tetapi dari luas lahan yang benar-benar ditanami dan dipanen. ( red)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *