Samosir, Sinar24Jam.com –
Beberapa pekan terakhir, masyarakat Sumatera Utara (Sumut) diserang oleh banyak kesulitan. Pertama ada banjir dan longsor yang hancurkan rumah, tempat umum, dan membuat jalan tidak bisa dilewati. Lalu, tiba-tiba BBM jadi susah didapat—menjadi beban baru yang membuat kehidupan sosial dan ekonomi warga semakin sulit.
Tim Sinar24Jam.com yang ke lapangan melihat, ini bukan cuma masalah karena cuaca atau kesalahan dalam mengirim BBM. Yang lebih penting, ada jeda yang terlalu lama antara apa yang butuh rakyat dan tanggapan dari pemerintah.
Di banyak tempat di Sumut, termasuk Samosir, warga harus antri berjam-jam di SPBU. Ada juga yang nunggu-nunggu tanpa tahu kapan bisa dapat BBM. Sopir yang kerja tergantung kendaraan sudah lelah dan putus asa. Warga yang mengungsi karena banjir juga terjepit—mereka butuh energi tapi susah dapat.
Kami melihat pola yang selalu terulang: ketika bencana datang, warga cepat saling menolong. Tapi yang mereka tunggu adalah kepastian dari pemerintah. Pemerintah pusat dan daerah memang sudah bergerak, tapi langkahnya belum secepat yang dibutuhkan di lapangan. Kelangkaan BBM bukan cuma masalah lambatnya pengiriman—ini membuat usaha rakyat kecil sulit berjalan, membuat mereka susah bekerja, pindah, atau bahkan cuma bertahan hidup.
Kita tahu negara tidak diam. Tapi kehadiran pemerintah harus bisa dirasakan, terutama oleh orang yang paling lemah. Saat banjir belum surut dan ekonomi macet, rakyat butuh bukan cuma janji—mereka butuh BBM yang pasti ada, penanganan bencana yang teratur, informasi yang jujur, dan bantuan yang sampai ke semua orang.
Ini bukan omongan marah. Ini cuma suara kekhawatiran masyarakat yang kami tuliskan apa adanya.
Kami berharap pemerintah pusat dan daerah bisa bergerak lebih cepat, bekerja sama lebih baik, dan pastikan warga tidak sendirian menghadapi krisis ini. Karena sukses tidak cuma dilihat dari angka di laporan—tapi dari sejauh mana rakyat merasakan bahwa pemerintah ada di saat mereka paling butuh.















