Example floating
Example floating




BeritaWisata

Belajar dari Bali, Bupati Simalungun Siapkan Strategi Besar Pariwisata Danau Toba Berbasis Budaya dan Ekonomi Rakyat

8
×

Belajar dari Bali, Bupati Simalungun Siapkan Strategi Besar Pariwisata Danau Toba Berbasis Budaya dan Ekonomi Rakyat

Sebarkan artikel ini

Simalungun, Sinar24jam.com

Upaya percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Danau Toba terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor dan pertukaran strategi pembangunan pariwisata. Dalam langkah tersebut, Bupati Anton Achmad Saragih menghadiri Focus Group Discussion (FGD) strategis yang digelar Bank Indonesia di Kantor Bupati Gianyar, Senin (11/05/2026).

Forum itu menjadi ruang penting bagi pemerintah daerah kawasan Danau Toba untuk mempelajari keberhasilan Kabupaten Gianyar dalam membangun sektor pariwisata berbasis budaya yang mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri kepala daerah dari kawasan Danau Toba, perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, tim ahli BRIN, jajaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, serta Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga. Hadir pula Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gede Mayun yang memaparkan berbagai strategi pembangunan pariwisata daerahnya.

Kabupaten Gianyar selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pariwisata budaya paling berhasil di Indonesia. Tidak hanya menjadi destinasi wisata dunia, daerah tersebut juga mampu menjaga pertumbuhan ekonomi hingga 5,58 persen dengan tingkat inflasi yang stabil di angka 2,08 persen.

Keberhasilan itu, menurut pembahasan dalam forum, ditopang oleh penerapan konsep “orkestrasi lintas sektor”, yakni pola kerja terpadu antarorganisasi perangkat daerah dan seluruh pemangku kepentingan yang bergerak dalam satu visi pembangunan pariwisata.

Dalam diskusi tersebut, pihak Bank Indonesia juga menekankan pentingnya transformasi digital sebagai penguat ekonomi daerah. Salah satu instrumen yang dianggap efektif adalah penerapan sistem pembayaran QRIS yang dinilai mampu memastikan perputaran uang wisatawan langsung menyentuh pelaku usaha lokal, pedagang kecil, hingga pengrajin masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan di Hotel Royal Pitamaha dengan menghadirkan narasumber utama Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, pakar arsitektur sekaligus Ketua PHRI Bali.

Dalam pemaparannya, Prof. Cok Ace menekankan pentingnya konsep local value chain atau rantai nilai lokal dalam pembangunan pariwisata. Menurutnya, sektor pariwisata tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu, melainkan harus menjadi “jembatan rezeki” yang memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat luas.

Ia menjelaskan, hotel, restoran, dan industri jasa wisata harus terhubung langsung dengan sektor pertanian, perkebunan, UMKM, serta kerajinan rakyat. Dengan demikian, hasil produksi masyarakat lokal menjadi bagian utama dari rantai ekonomi wisata.

“Pariwisata adalah ekosistem yang saling terhubung. Jika pertanian kuat, UMKM hidup, pendidikan karakter berjalan baik, maka pariwisata akan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” tegas Prof. Cok Ace.

Ia juga memberikan pesan khusus agar pembangunan kawasan Danau Toba tetap mempertahankan identitas budaya lokal, termasuk arsitektur khas Simalungun yang dinilai memiliki nilai visual dan filosofi yang kuat sebagai pembeda dari destinasi wisata lain di dunia.

Bupati Anton Achmad Saragih menyambut positif berbagai masukan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, pengembangan pariwisata Danau Toba tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga membutuhkan kolaborasi kuat antar sektor agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat. Hal itu disampaikan Bupati Simalungun melalui kadis kominfo kepada wartawan.

Lebih lanjut Ia menegaskan bahwa budaya keramahan masyarakat, pelayanan yang berkesan, serta semangat gotong royong menjadi modal utama dalam membangun pariwisata yang memiliki daya saing tinggi.

“Pariwisata harus memiliki ruh. Kita ingin pariwisata yang tidak hanya indah dilihat wisatawan, tetapi juga mampu menghidupkan ekonomi masyarakat. Hotel dan destinasi wisata di Danau Toba ke depan harus menjadi pasar utama bagi hasil pertanian, perkebunan, hingga karya para pengrajin di nagori-nagori,” ujar Anton.

Menurutnya, pengembangan KEK Danau Toba harus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, sekaligus menjaga warisan budaya dan lingkungan kawasan Danau Toba.

Dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Bank Indonesia, dan BRIN, Pemerintah Kabupaten Simalungun optimistis kawasan Danau Toba dapat berkembang menjadi destinasi wisata kelas dunia yang tetap berpijak pada identitas budaya lokal dan kesejahteraan masyarakatnya. ( Ps)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *