Example floating
Example floating




Berita

Hari Ulos 2025 Dipusatkan di Titik Nol Peradaban Batak, Sianjurmula-mula: Meski Tanpa Dukungan Gubernur dan Bupati, Semangat Pelestarian Tetap Menyala

51
×

Hari Ulos 2025 Dipusatkan di Titik Nol Peradaban Batak, Sianjurmula-mula: Meski Tanpa Dukungan Gubernur dan Bupati, Semangat Pelestarian Tetap Menyala

Sebarkan artikel ini

Samosir, Sinar24jam.com –
Meski tidak mendapat perhatian serius dari Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dan Bupati Samosir, Vandiko T. Gultom, peringatan Hari Ulos Nasional 17 Oktober 2025 tetap akan digelar. Tahun ini, acara bersejarah tersebut akan dipusatkan di Titik Nol Peradaban Batak, tepatnya di Limbong, Sianjurmula-mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara — kawasan yang diyakini sebagai asal muasal Bangso Batak.

Ketua Yayasan Pusuk Buhit, Efendy Naibaho, bersama Sekretaris Panitia Hari Ulos 2025, Marihot Simbolon, menjelaskan kepada awak media bahwa pelaksanaan tahun ini digelar secara sederhana. Selain terkendala anggaran dan minimnya dukungan dari pemerintah daerah, panitia juga ingin menyesuaikan diri dengan ajakan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan efisiensi dan penghematan anggaran.

“Kami ingin tetap menjaga makna dan semangat Hari Ulos, walau dengan segala keterbatasan. Ini juga bagian dari bentuk efisiensi sesuai imbauan Presiden,” ujar Efendy Naibaho didampingi Marihot Simbolon, Rabu (8/10/2025) di Rumah Makan Sederhana, Pangururan.

Ulos dan Titik Nol Peradaban Batak

Acara peringatan tahun ini akan berpusat di areal Titik Nol Habatahon, yang dibangun oleh Punguan Pomparan Limbong Mulana Indonesia (PPLMI) di bawah pimpinan Brigjen (Purn) Dr. Benhard Limbong, SH, MH. Area bersejarah seluas 600 meter persegi tersebut berdiri megah dengan simbol peradaban Batak yang menandai awal kehidupan dan kebudayaan suku Batak.

Tokoh masyarakat setempat, Saut Limbong, menegaskan bahwa pembangunan simbol “Titik Nol” ini bukan sekadar monumen, tetapi pernyataan identitas dan kebanggaan.

“Sianjurmula-mula adalah asal mula Bangso Batak. Di sinilah cikal bakal peradaban kita dimulai. Maka wajar peringatan Hari Ulos dipusatkan di sini,” ujarnya.

Panitia berharap Brigjen (Purn) Benhard Limbong juga bersedia ambil bagian penuh dalam kegiatan ini, bahkan diharapkan menjadi Ketua Umum Panitia Hari Ulos 2025.

Makna Ulos dalam Kehidupan Orang Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak yang memiliki makna sakral dan simbolik tinggi dalam setiap tahapan kehidupan masyarakat Batak — mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian.

Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tradisi ulos telah berusia lebih dari 4.000 tahun, menjadikannya salah satu warisan tekstil tertua di Asia — bahkan lebih tua dari tradisi tenun bangsa Eropa.

Secara harfiah, ulos berarti “selimut”, yang berakar dari kebiasaan nenek moyang suku Batak yang hidup di pegunungan dan membutuhkan kehangatan. Dalam filosofi Batak, kehidupan manusia disimbolkan oleh darah, nafas, dan kehangatan, dan ulos menjadi representasi dari kehangatan tersebut — berdampingan dengan matahari dan api.

Tradisi pemberian ulos atau mangulosi juga menjadi simbol kasih sayang, restu, dan perlindungan dari orang tua atau tetua kepada pihak yang diberi ulos.

Ragam Jenis Ulos dan Maknanya

Beragam jenis ulos memiliki fungsi dan makna berbeda dalam setiap upacara adat, antara lain:

  • Ulos Antakantak, dipakai saat berduka cita.
  • Ulos Bintang Maratur, simbol penghargaan dan kebahagiaan bagi pemilik rumah baru.
  • Ulos Ragi Hotang, diberikan kepada pengantin sebagai tanda restu dan ikatan keluarga baru.
  • Ulos Mangiring, untuk anak pertama sebagai harapan agar keturunannya terus berlanjut.
  • Ulos Sibolang Rasta Pamontari, dipakai saat kedukaan mendalam.

Masih banyak lagi jenis ulos lainnya, seperti Ulos Suri-suri Ganjang, Ulos Pinuncaan, dan Ulos Simarinjam Sisi, masing-masing dengan makna sakral tersendiri.

Ulos di Era Modern

Kini, ulos tidak hanya menjadi bagian dari ritual adat, tetapi juga berkembang menjadi produk budaya modern. Motif ulos hadir dalam bentuk busana, tas, dompet, ikat kepala, hingga aksesori rumah tangga tanpa kehilangan nilai filosofisnya. Bahkan, pemberian ulos kini tak terbatas pada suku Batak saja, melainkan menjadi simbol penghormatan dan berkat bagi siapa pun yang menerimanya.

Pelestarian yang Harus Dijaga

Meski peringatan Hari Ulos 2025 diadakan sederhana, semangat pelestarian budaya Batak tetap bergelora. Para panitia dan masyarakat berharap agar pemerintah daerah dan provinsi ke depan lebih serius memperhatikan keberlanjutan warisan budaya ini.

“Ulos bukan sekadar kain, tapi simbol kehidupan dan jati diri orang Batak. Menjaga ulos berarti menjaga sejarah dan harga diri leluhur kita,” pungkas Efendy Naibaho.

Dengan semangat kebersamaan dan kearifan lokal, Hari Ulos 2025 di Titik Nol Peradaban Batak akan menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali identitas dan kebanggaan suku Batak di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *