Example floating
Example floating




Berita

Tangisan Sunyi Ihan Batak: “Terancam Punah di Tanah Leluhur”

55
×

Tangisan Sunyi Ihan Batak: “Terancam Punah di Tanah Leluhur”

Sebarkan artikel ini

Humbahas,sinar24jam.com –

Di tepian Sungai Kecamatan Tarabintang, di bawah langit Humbang Hasundutan, Sumatera Utara yang mulai beranjak senja, seorang pria tua duduk termenung. Pandangannya kosong, menatap riak air yang mengalir tenang. Tangannya yang mulai keriput memegang jala yang tak lagi sering ia gunakan. Namanya Oppung Tumanggor, seorang nelayan yang sejak kecil akrab dengan air di sungai ini.

“Dulu, setiap pagi sebelum matahari naik tinggi, kami bisa menangkap Ihan Batak hanya dengan melempar jala. Sekarang? Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya lagi,” keluhnya dengan suara parau.

Ihan Batak, ikan air tawar yang sakral bagi masyarakat Batak, perlahan menghilang dari perairan Humbang Hasundutan. Ikan yang dahulu menjadi bagian dari ritual adat, perjamuan suci, dan simbol kemakmuran itu kini semakin sulit ditemukan. Para tetua adat mengingatkan,
lenyapnya Ihan Batak bukan sekadar hilangnya satu spesies, tetapi juga hilangnya warisan budaya.

Di kecamatan Dolok sanggul dan Baktiraja, para nelayan lainnya mengeluhkan hal yang sama. Dahulu, mereka bisa mencari Ihan Batak di Sungai Aek Silang dan Danau Toba. Namun kini, harapan mereka menemukan ikan tersebut semakin Punah.

“Kami paham, zaman berubah. Pembangunan memang perlu. Tapi ketika PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro) mulai berdiri di daerah ini, ekosistem sungai terganggu. Air yang dulu jernih dan segar kini berubah. Banyak ikan yang tak bisa bertahan,” ujar Simamora, nelayan lainnya, dengan raut wajah sedih.

Para peneliti lingkungan pun mengamini bahwa pembangunan PLTM di beberapa titik di Humbang Hasundutan memberi dampak besar terhadap ekosistem sungai. Arus air yang berubah, sedimentasi yang meningkat, serta pencemaran menyebabkan habitat alami Ihan Batak rusak parah.

Masyarakat Batak, terutama mereka yang masih menjaga adat dan tradisi, merasa kehilangan. Tanpa Ihan Batak, banyak ritual adat yang kehilangan maknanya. “Kami ingin cucu-cucu kami masih bisa melihat dan menikmati Ihan Batak seperti kami dulu. Tapi jika begini terus, yang tersisa hanyalah cerita,” kata Oppung Tumanggor, matanya berkaca-kaca.

Mereka berharap pemerintah dan masyarakat lebih peduli terhadap keberlangsungan Ihan Batak. Upaya konservasi harus segera dilakukan sebelum segalanya terlambat. Sebab, hilangnya Ihan Batak bukan sekadar kehilangan satu jenis ikan, tapi juga kehilangan identitas dan warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menembus Pagi Danau Toba, Perjalanan Jurnalis dari Samosir ke Pematangsiantar Demi Menghadiri Adat Penghiburan Samosir, Sinar24jam.com Cahaya mentari pagi perlahan menyelimuti kawasan Pelabuhan Simanindo ketika perjalanan menuju Kota Pematangsiantar dimulai dari Kabupaten Samosir, Minggu pagi (17/5/2026). Udara sejuk khas tepian Danau Toba terasa begitu menenangkan. Hamparan air danau yang membiru memantulkan cahaya matahari pagi, menciptakan panorama alam yang memukau sepanjang perjalanan. Staf Redaksi Prestasi Reformasi bersama Pemimpin Redaksi Sinar24jam.com berangkat dari Samosir menggunakan kapal kayu menuju Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Perjalanan pagi itu terasa begitu teduh. Riak air danau bergerak perlahan diiringi hembusan angin pegunungan yang sejuk, sementara suasana di atas kapal masih dipenuhi ketenangan khas pagi hari. Setibanya di Dermaga Tigaras, suasana pelabuhan masih tampak lengang. Aktivitas penumpang maupun kendaraan belum begitu ramai. Beberapa kapal terlihat bersandar tenang di tepian dermaga, berpadu dengan panorama alam Danau Toba yang memanjakan mata. “Pagi di Tigaras selalu menghadirkan ketenangan tersendiri. Udara yang segar dan panorama danau memberi semangat baru sebelum melanjutkan perjalanan,” ujar salah seorang rombongan. Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan kendaraan roda dua menuju Kota Pematangsiantar dengan tujuan menghadiri acara adat penghiburan keluarga Pemimpin Redaksi Sinar24jam.com di kawasan Jalan Asahan. Meski menempuh perjalanan cukup panjang dari Samosir, rombongan akhirnya tiba tepat waktu untuk mengikuti prosesi adat terakhir pemberangkatan keluarga yang meninggal dunia. Dalam suasana adat yang penuh haru, turut dilaksanakan prosesi pemberian ulos tudung sebagai bentuk penghormatan dan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Kehadiran rombongan dari Samosir disambut hangat pihak keluarga yang sebelumnya telah berada di lokasi acara. Keluarga mengaku merasa senang dan bersyukur atas kehadiran para kerabat dan sahabat yang datang dari berbagai daerah untuk memberikan dukungan moril di tengah suasana duka. Perjalanan dari tepian Danau Toba menuju Kota Pematangsiantar pagi itu bukan sekadar perjalanan biasa. Di balik indahnya panorama alam yang dilalui, tersimpan nilai kebersamaan, penghormatan adat, dan kuatnya ikatan kekeluargaan yang tetap terjaga di tengah masyarakat Batak hingga saat ini. ( red)
Berita

Samosir, Sinar24jam.com Cahaya mentari pagi perlahan menyelimuti kawasan…