Samosir, Sinar24jam.com
Di balik indahnya penataan wajah Kota Pangururan, muncul kegelisahan yang kini menggema dari jantung budaya masyarakat Bius Sitolu Hae Horbo. Taman Sitolu Hae Horbo yang berdiri di kawasan segitiga pintu masuk Kota Pangururan, tepat di depan Kantor Polsek Pangururan, kini menjadi sorotan setelah sejumlah simbol budaya ke Kristenan di kawasan tersebut dikabarkan hilang dari lokasi.
Bagi sebagian orang, taman itu mungkin hanya ruang terbuka tempat warga duduk santai menikmati sore. Namun bagi masyarakat adat dan keturunan Bius Sitolu Hae Horbo, taman tersebut adalah jejak sejarah, simbol penghormatan kepada leluhur, sekaligus identitas budaya yang tidak ternilai.
Kini, kekhawatiran muncul ketika penataan taman dinilai dilakukan tanpa komunikasi terbuka dengan pihak keturunan Bius Sitolu Hae Horbo. Warga menilai perubahan yang terjadi perlahan mengikis ruh budaya yang selama ini hidup di kawasan tersebut.
“Jangan sampai modernisasi justru menghapus sejarah,” demikian suara yang berkembang di tengah masyarakat Pangururan.
Efendy Naibaho, salah satu keturunan Sitolu Hae Horbo, dengan tegas meminta agar identitas taman tetap dipertahankan dan tidak dihilangkan oleh perubahan penataan kota.
Menurut Efendy, nama Sitolu Hae Horbo bukan sekadar tulisan yang terpampang di taman, melainkan simbol perjalanan sejarah masyarakat Pangururan yang diwariskan lintas generasi.
“Taman ini bukan hanya tempat duduk-duduk atau lokasi swafoto. Ini warisan budaya. Ini identitas kami. Nama Sitolu Hae Horbo harus tetap dijaga karena menjadi ciri khas Kota Pangururan dan pengingat bagi anak cucu tentang sejarah leluhurnya,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (16/5/2026).
Ia juga menyayangkan minimnya koordinasi sebelum dilakukan perubahan penataan di kawasan taman.
Menurutnya, pemerintah semestinya melibatkan tokoh adat, keturunan raja bius, maupun masyarakat setempat agar penataan tetap berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya.
“Kami tidak anti pembangunan. Tetapi jangan sampai ada perubahan dilakukan diam-diam tanpa melibatkan pemilik sejarah budaya itu sendiri. Kalau simbol-simbol budaya mulai hilang, masyarakat tentu merasa kehilangan,” katanya.
Keresahan warga semakin memuncak setelah hilangnya ornamen gaba-gaba salib yang selama ini berdiri di kawasan taman dan dianggap sebagai bagian dari identitas budaya Bius Sitolu Hae Horbo.
Arifin Naibaho (69), warga Pangururan, bahkan telah melaporkan dugaan hilangnya ornamen tersebut ke Polres Samosir pada Jumat (16/5/2026).
Ia mengaku kecewa ketika mendapati gaba-gaba salib yang sebelumnya terpasang di taman tidak lagi berada di lokasi.
“Saya berharap gaba-gaba itu dikembalikan dan dipasang kembali. Itu bagian dari simbol budaya Sitolu Hae Horbo,” yang memiliki Agama Kristen ujar Arifin usai membuat laporan yang diterima petugas SPKT Polres Samosir.
Polemik ini kini menjadi perbincangan masyarakat Pangururan. Banyak warga berharap pemerintah tidak hanya fokus mempercantik tata kota, tetapi juga menjaga nilai sejarah dan identitas budaya yang menjadi napas Kota Pangururan selama ini.
Sebab bagi masyarakat adat, hilangnya simbol budaya Agama Kristen bukan sekadar kehilangan benda. Lebih dari itu, hilangnya simbol budaya dianggap sebagai pudarnya jejak leluhur di tanah yang mereka wariskan turun-temurun. ( red)















