Example floating
Example floating




BeritaHukum dan Kriminal

Jangan Hilangkan Jejak Leluhur Kami — Polemik Taman Sitolu Hae Horbo Menggema di Pangururan

145
×

Jangan Hilangkan Jejak Leluhur Kami — Polemik Taman Sitolu Hae Horbo Menggema di Pangururan

Sebarkan artikel ini

Samosir, Sinar24jam.com

Di balik indahnya penataan wajah Kota Pangururan, muncul kegelisahan yang kini menggema dari jantung budaya masyarakat Bius Sitolu Hae Horbo. Taman Sitolu Hae Horbo yang berdiri di kawasan segitiga pintu masuk Kota Pangururan, tepat di depan Kantor Polsek Pangururan, kini menjadi sorotan setelah sejumlah simbol budaya ke Kristenan di kawasan tersebut dikabarkan hilang dari lokasi.

Bagi sebagian orang, taman itu mungkin hanya ruang terbuka tempat warga duduk santai menikmati sore. Namun bagi masyarakat adat dan keturunan Bius Sitolu Hae Horbo, taman tersebut adalah jejak sejarah, simbol penghormatan kepada leluhur, sekaligus identitas budaya yang tidak ternilai.

Kini, kekhawatiran muncul ketika penataan taman dinilai dilakukan tanpa komunikasi terbuka dengan pihak keturunan Bius Sitolu Hae Horbo. Warga menilai perubahan yang terjadi perlahan mengikis ruh budaya yang selama ini hidup di kawasan tersebut.

“Jangan sampai modernisasi justru menghapus sejarah,” demikian suara yang berkembang di tengah masyarakat Pangururan.

Efendy Naibaho, salah satu keturunan Sitolu Hae Horbo, dengan tegas meminta agar identitas taman tetap dipertahankan dan tidak dihilangkan oleh perubahan penataan kota.

Menurut Efendy, nama Sitolu Hae Horbo bukan sekadar tulisan yang terpampang di taman, melainkan simbol perjalanan sejarah masyarakat Pangururan yang diwariskan lintas generasi.

“Taman ini bukan hanya tempat duduk-duduk atau lokasi swafoto. Ini warisan budaya. Ini identitas kami. Nama Sitolu Hae Horbo harus tetap dijaga karena menjadi ciri khas Kota Pangururan dan pengingat bagi anak cucu tentang sejarah leluhurnya,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (16/5/2026).

Ia juga menyayangkan minimnya koordinasi sebelum dilakukan perubahan penataan di kawasan taman.

Menurutnya, pemerintah semestinya melibatkan tokoh adat, keturunan raja bius, maupun masyarakat setempat agar penataan tetap berjalan seiring dengan upaya pelestarian budaya.

“Kami tidak anti pembangunan. Tetapi jangan sampai ada perubahan dilakukan diam-diam tanpa melibatkan pemilik sejarah budaya itu sendiri. Kalau simbol-simbol budaya mulai hilang, masyarakat tentu merasa kehilangan,” katanya.

Keresahan warga semakin memuncak setelah hilangnya ornamen gaba-gaba salib yang selama ini berdiri di kawasan taman dan dianggap sebagai bagian dari identitas budaya Bius Sitolu Hae Horbo.

Arifin Naibaho (69), warga Pangururan, bahkan telah melaporkan dugaan hilangnya ornamen tersebut ke Polres Samosir pada Jumat (16/5/2026).

Ia mengaku kecewa ketika mendapati gaba-gaba salib yang sebelumnya terpasang di taman tidak lagi berada di lokasi.

“Saya berharap gaba-gaba itu dikembalikan dan dipasang kembali. Itu bagian dari simbol budaya Sitolu Hae Horbo,” yang memiliki Agama Kristen ujar Arifin usai membuat laporan yang diterima petugas SPKT Polres Samosir.

Polemik ini kini menjadi perbincangan masyarakat Pangururan. Banyak warga berharap pemerintah tidak hanya fokus mempercantik tata kota, tetapi juga menjaga nilai sejarah dan identitas budaya yang menjadi napas Kota Pangururan selama ini.

Sebab bagi masyarakat adat, hilangnya simbol budaya Agama Kristen bukan sekadar kehilangan benda. Lebih dari itu, hilangnya simbol budaya dianggap sebagai pudarnya jejak leluhur di tanah yang mereka wariskan turun-temurun. ( red)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menembus Pagi Danau Toba, Perjalanan Jurnalis dari Samosir ke Pematangsiantar Demi Menghadiri Adat Penghiburan Samosir, Sinar24jam.com Cahaya mentari pagi perlahan menyelimuti kawasan Pelabuhan Simanindo ketika perjalanan menuju Kota Pematangsiantar dimulai dari Kabupaten Samosir, Minggu pagi (17/5/2026). Udara sejuk khas tepian Danau Toba terasa begitu menenangkan. Hamparan air danau yang membiru memantulkan cahaya matahari pagi, menciptakan panorama alam yang memukau sepanjang perjalanan. Staf Redaksi Prestasi Reformasi bersama Pemimpin Redaksi Sinar24jam.com berangkat dari Samosir menggunakan kapal kayu menuju Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun. Perjalanan pagi itu terasa begitu teduh. Riak air danau bergerak perlahan diiringi hembusan angin pegunungan yang sejuk, sementara suasana di atas kapal masih dipenuhi ketenangan khas pagi hari. Setibanya di Dermaga Tigaras, suasana pelabuhan masih tampak lengang. Aktivitas penumpang maupun kendaraan belum begitu ramai. Beberapa kapal terlihat bersandar tenang di tepian dermaga, berpadu dengan panorama alam Danau Toba yang memanjakan mata. “Pagi di Tigaras selalu menghadirkan ketenangan tersendiri. Udara yang segar dan panorama danau memberi semangat baru sebelum melanjutkan perjalanan,” ujar salah seorang rombongan. Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan kendaraan roda dua menuju Kota Pematangsiantar dengan tujuan menghadiri acara adat penghiburan keluarga Pemimpin Redaksi Sinar24jam.com di kawasan Jalan Asahan. Meski menempuh perjalanan cukup panjang dari Samosir, rombongan akhirnya tiba tepat waktu untuk mengikuti prosesi adat terakhir pemberangkatan keluarga yang meninggal dunia. Dalam suasana adat yang penuh haru, turut dilaksanakan prosesi pemberian ulos tudung sebagai bentuk penghormatan dan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Kehadiran rombongan dari Samosir disambut hangat pihak keluarga yang sebelumnya telah berada di lokasi acara. Keluarga mengaku merasa senang dan bersyukur atas kehadiran para kerabat dan sahabat yang datang dari berbagai daerah untuk memberikan dukungan moril di tengah suasana duka. Perjalanan dari tepian Danau Toba menuju Kota Pematangsiantar pagi itu bukan sekadar perjalanan biasa. Di balik indahnya panorama alam yang dilalui, tersimpan nilai kebersamaan, penghormatan adat, dan kuatnya ikatan kekeluargaan yang tetap terjaga di tengah masyarakat Batak hingga saat ini. ( red)
Berita

Samosir, Sinar24jam.com Cahaya mentari pagi perlahan menyelimuti kawasan…