Samosir, Sinar24jam.com-
Dalam suasana batin yang penuh keprihatinan, dr. Delano Sidabutar menyampaikan permohonan terbuka kepada seluruh Pomparan Raja Sidabutar di manapun berada. Permohonan ini disampaikan bukan semata karena nama baik pribadi yang tercoreng, tetapi karena keyakinannya bahwa kebenaran dan keadilan harus tetap dijunjung tinggi.
Dr. Delano, seorang dokter yang selama ini mendedikasikan diri untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati, menyampaikan bahwa dirinya diberhentikan dari tugas oleh Pemerintah Kabupaten Samosir dengan 11 tuduhan yang menurutnya tidak memiliki dasar bukti yang sah.
> “Saya tidak tahu harus mulai dari mana, selain dari hati saya yang paling dalam. Saya dituduh dengan berbagai hal yang tidak pernah saya lakukan, dan tidak ada satu pun bukti yang diberikan kepada saya. Ini bukan hanya menyakiti saya sebagai seorang dokter, tapi juga sebagai seorang anak bangsa yang berusaha bekerja dengan jujur dan tulus,” ungkapnya lirih.
Dalam permohonannya, dr. Delano tidak meminta belas kasihan, melainkan dukungan moral dan perhatian dari seluruh Pomparan Sidabutar, keluarga besar yang selalu dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai adat, martabat, dan solidaritas antarsesama.
> “Saya tahu, saya bukan siapa-siapa tanpa doa dan kekuatan dari pomparan-ku, dari marga-ku sendiri. Saya datang memohon, dengan tulus, agar kita tidak diam terhadap ketidakadilan. Ini bukan hanya soal saya. Hari ini saya yang diperlakukan seperti ini, besok bisa siapa saja dari kita. Mari kita bersatu demi keadilan,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Dr. Delano juga menyampaikan bahwa ia akan menempuh jalur hukum, karena ia percaya bahwa hukum masih bisa menjadi alat untuk menegakkan keadilan, meski prosesnya panjang dan melelahkan.
Pemecatan ini, menurutnya, tidak hanya mengguncang kehidupannya secara pribadi dan profesional, tetapi juga menjadi tamparan bagi semua orang yang bekerja dengan integritas.
> “Saya mohon kepada seluruh pomparan Sidabutar, di mana pun berada — dari kota-kota besar hingga kampung halaman kita di Samosir — mari satukan suara untuk keadilan. Saya tidak ingin hanya diam dan menerima perlakuan ini, karena diam berarti setuju. Dan saya yakin, pomparan Sidabutar tidak pernah diajarkan untuk tunduk pada ketidakadilan,” tutupnya.
Permohonan ini menjadi seruan hati dari seorang anggota keluarga besar Sidabutar yang tengah mencari kekuatan dan dukungan moral dari saudara-saudaranya sendiri, di tengah badai yang sedang ia hadapi.















