Example floating
Example floating




Berita

Pohon Hariara Yang Hilang: “Musnahnya Simbol Kehidupan di Tanah Batak Toba”

44
×

Pohon Hariara Yang Hilang: “Musnahnya Simbol Kehidupan di Tanah Batak Toba”

Sebarkan artikel ini

Humbahas, Sinar24jam.com –

Dahulu, di tengah-tengah huta (perkampungan), berdiri gagah pohon Hariara, melindungi masyarakat dengan rindangnya. Kini, pohon itu tak lagi ada. Hanya tanah lapang dan bangunan beton yang menggantikan tempatnya.

Dulu, di setiap desa Batak Toba, Hariara bukan sekadar pohon. Ia adalah saksi sejarah, tempat orang tua bercerita kepada anak-cucu, tempat musyawarah adat digelar, tempat masyarakat berlindung dari teriknya matahari dan derasnya hujan. Kini, seiring waktu, pohon itu lenyap, hilang bersama kenangan yang tersisa dalam ingatan para tetua.

Hilangnya Warisan Leluhur

Pohon Hariara semakin langka. Modernisasi yang menggempur perkampungan tradisional telah menggerus keberadaannya. Tak ada lagi ruang untuknya, tak ada lagi tempat untuk pohon yang dulu dianggap suci. Generasi muda lebih mengenal layar gawai dibandingkan akar budaya mereka sendiri.

“Sejak kecil, saya melihat pohon Hariara tumbuh di tengah desa. Sekarang, semua sudah berubah. Huta ini sudah penuh rumah-rumah modern, dan tak ada satu pun Hariara tersisa,” ujar Opung Sahat, seorang tetua adat di Pasar lama kecamatan lintong nihuta kabupaten Humbang hasundutan, dengan mata menerawang jauh. Suaranya bergetar, seolah menyimpan kepedihan melihat warisan leluhur yang perlahan menghilang.

Lebih menyedihkan lagi, bukan hanya manusia yang kehilangan Hariara, tetapi juga burung-burung yang biasa bersarang di dahannya. Tanpa rumahnya, mereka pergi, entah ke mana. Alam kehilangan keseimbangannya, dan kita, manusia, hanya bisa menyaksikan tanpa daya.

Ketidakpedulian yang Mengancam Identitas

Lebih dari sekadar pohon, Hariara adalah identitas. Ia adalah lambang keberlanjutan kehidupan Batak Toba. Tapi sekarang, berapa banyak anak muda yang peduli? Berapa banyak yang tahu bahwa leluhur mereka pernah menanam pohon ini sebagai doa untuk generasi mendatang?

“Kami dulu berkumpul di bawah Hariara, berbagi cerita, menyelesaikan masalah. Tapi sekarang, orang lebih suka menyendiri di kamar dengan ponsel mereka. Pohon itu hilang, begitu juga kebersamaan kami,” kata Oppung Sahat.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa Hariara akan tetap ada dalam 50 atau 100 tahun ke depan jika masyarakat tidak segera bergerak. Jika dulu ia berdiri kokoh sebagai pusat kehidupan, kini ia hanya menjadi bagian dari cerita lama.

Harapan yang Mulai Pudar

Upaya pelestarian memang ada, tapi masih lemah. Program penanaman kembali masih sebatas wacana, sementara pembangunan terus melaju tanpa memperhatikan warisan budaya. Jika Hariara punah, maka kita akan kehilangan lebih dari sekadar pohon. Kita akan kehilangan jejak leluhur, kehilangan jati diri kita sebagai orang Batak Toba.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anak kita hanya akan mengenal Hariara dari buku sejarah, tanpa pernah melihatnya berdiri megah di tengah desa.

Sebelum terlambat, sebelum semuanya hanya menjadi kenangan, masih adakah yang peduli?

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *