Humbahas, sinar24jam.com–
Di pintu masuk Bukit Inspirasi, dua Patung Kuda yang dulu berdiri gagah kini tampak lusuh, patung kuda putih dan patung kuda hitam, kini kehilangan kemegahannya.
Di tengah gapura, patung pria tua yang seharusnya melambangkan inspirasi kini tampak seperti seorang lelaki renta yang duduk dalam kesedihan.
Seorang warga berdiri di seberang jalan, memandangnya dengan sorot mata sendu, kepalanya manggut-manggut seolah memahami duka yang tak terucapkan.
Patung-patung ini dulunya adalah lambang kebanggaan. Dibangun di masa kepemimpinan Bupati Makdin Sihombing, mereka berdiri sebagai penyambut tamu yang datang ke kabupaten Humbang Hasundutan, melambangkan kekuatan dan semangat yang tak tergoyahkan. Namun, waktu berlalu, dan patung-patung itu dibiarkan terlantar. Catnya kusam, debu menumpuk, dan tubuh mereka yang dulu berkilauan kini hanya bayangan suram dari masa lalu.
Seorang warga tua yang telah bertahun-tahun tinggal di dekat Bukit Inspirasi memandang patung-patung itu dengan mata berkaca-kaca.
“Dulu, setiap kali saya lewat sini, saya merasa bangga. Tapi sekarang… rasanya seperti melihat sesuatu yang kita cintai perlahan-lahan mati,” katanya dengan suara parau.
Setiap hari, para pejabat melintas di bawah gapura ini, tapi tak satu pun yang berhenti untuk melihat lebih dekat. Tak satu pun yang menaruh peduli pada ikon yang seharusnya menjadi cerminan kebanggaan daerah. “Jika patung ini bisa berbicara, mungkin dia akan menangis,” ujar seorang pemuda yang juga merasa sedih melihat kondisi patung tersebut.
Patung kuda yang dulu menggambarkan ketangguhan, kini berdiri dalam kesepian. Patung pria tua yang seharusnya melambangkan inspirasi, kini terlihat seperti seorang lelaki yang kehabisan harapan.
Apakah ini cerminan dari kepedulian kita terhadap sejarah dan simbol-simbol daerah? Apakah kita telah lupa bagaimana menghargai sesuatu yang pernah kita banggakan?
Masyarakat berharap ada perubahan. Mereka ingin melihat ikon daerah ini kembali gagah, kembali memberi inspirasi. Mereka tidak ingin patung-patung ini hanya menjadi saksi bisu dari ketidakpedulian, atau lebih buruk lagi, menjadi simbol dari sesuatu yang telah dilupakan.
Mungkin, di suatu senja, ketika cahaya matahari jatuh di atas Bukit Inspirasi, ada seseorang yang akhirnya memutuskan untuk peduli. yaitu Bupati dan wakil yang baru terpilih. Mungkin, suatu hari nanti, patung-patung ini akan kembali berdiri dengan megah, membawa harapan, bukan kesedihan.l, di kepemimpinan mereka.















