Example floating
Example floating




Berita

Dua Versi Berbeda: Lapas Pangururan dan RS Hadrianus Soal Kematian Tahanan A. Siregar, Publik Desak Transparansi Penegak Hukum

38
×

Dua Versi Berbeda: Lapas Pangururan dan RS Hadrianus Soal Kematian Tahanan A. Siregar, Publik Desak Transparansi Penegak Hukum

Sebarkan artikel ini

Samosir, Sinar24jam.com — Kematian seorang tahanan bernama A. Siregar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pangururan, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara, menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Peristiwa yang berawal dari keributan antar tahanan pada Senin malam, 6 Oktober 2025, itu kini memunculkan dua versi berbeda antara pihak Lapas dan Rumah Sakit Hadrianus Pangururan.

Menurut keterangan Kalapas Pangururan, J. Sinuraya, insiden terjadi pada malam hari namun sempat berhasil diredam petugas.

“Keributan sempat kami amankan pada malam hari, tetapi pagi harinya terjadi lagi. Pelaku pastinya masih kami dalami. Yang jelas, korban masih hidup saat dibawa ke Rumah Sakit Hadrianus Pangururan untuk mendapatkan pertolongan. Namun, korban memang memiliki penyakit, karena kakinya sering berkeringat — mungkin jantung,” ujar Sinuraya kepada wartawan.

Namun, pernyataan Kalapas tersebut justru berbeda dengan keterangan pihak Rumah Sakit Hadrianus Pangururan.
Direktur RS, dr. I.H. Sialoho, menegaskan bahwa korban sudah dalam keadaan meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.

“Korban datang sudah tidak bernyawa. Secara kasat mata kami melihat luka di bagian leher, kepala, dan lutut. Tapi untuk memastikan penyebab kematian, tetap menunggu hasil otopsi,” jelas Sialoho.

Jenazah A. Siregar kemudian dibawa oleh pihak kepolisian ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk dilakukan otopsi, guna memastikan penyebab pasti kematian.

Perbedaan dua pernyataan ini menimbulkan keraguan publik. Banyak warga menilai ada indikasi kejanggalan dalam penanganan kasus di dalam Lapas Pangururan. Masyarakat mendesak agar Polres Samosir dan Kanwil Kemenkumham Sumatera Utara segera melakukan penyelidikan terbuka dan profesional.

“Kasus seperti ini jangan ditutup-tutupi. Kami ingin kebenaran dan keadilan ditegakkan. Nyawa manusia, siapapun dia, tetap harus dihargai,” ujar salah satu warga di media sosial, menanggapi kabar tersebut.

Kematian A. Siregar bukan hanya persoalan hilangnya nyawa seorang tahanan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab dan integritas lembaga pemasyarakatan. Publik berharap agar kejadian ini menjadi momentum pembenahan sistem keamanan dan pengawasan di dalam Lapas Pangururan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Kasat Reskrim Polres Samosir terkait hasil penyelidikan awal maupun perkembangan kasus tersebut.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *