Samosir, Sinar24jam.com –
Di tengah kekhawatiran atas semakin rusaknya ekosistem hutan akibat praktik pembalakan liar dan kebakaran hutan yang berulang setiap musim kemarau, seorang jurnalis senior di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, memilih untuk tidak tinggal diam. Namanya Hotman Siagian, pria kelahiran Pematang Siantar, 10 Juni 1964, yang dikenal sebagai jurnalis, anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), dan anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).
Kini, di usianya yang telah mencapai 60 tahun, Hotman menambahkan satu lagi identitas penting dalam perjalanan hidupnya: relawan Manggala Agni, pasukan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Hotman mengikuti dan lulus dalam Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Fire Crew 1) selama sembilan hari di Kabupaten Samosir, pada Oktober 2024 lalu. Pelatihan ini mencakup teknik pemadaman api, pertolongan pertama, pengenalan vegetasi hutan, hingga taktik patroli dan deteksi dini titik api. Pelatihan tersebut diakhiri dengan sertifikat yang ditandatangani langsung oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM KLHK, Dr. Ir. Krusdmayanti, M.Si.
“Menjaga hutan bukan hanya urusan dinas kehutanan. Ini soal masa depan generasi kita. Kalau hutan rusak, bukan hanya ekologi yang terganggu, budaya lokal juga ikut hilang,” ujar Hotman saat ditemui di sela aktivitasnya, Selasa (22/4/2024).
Selain soal kebakaran, kekhawatiran besar Hotman tertuju pada maraknya praktik illegal logging atau pembalakan liar di sekitar kawasan hutan Samosir. Ia menyebut, jaringan mafia hutan masih bekerja secara sistematis dan seringkali tidak tersentuh hukum.
Menurut Hotman, sudah saatnya pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat sipil bersinergi membongkar jaringan perusak hutan. Ia juga mendesak agar Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H) ditegakkan secara konsisten, termasuk sanksi pidana korporasi bagi perusahaan yang terbukti merusak hutan.
Hotman kini aktif turun ke desa-desa di wilayah Samosir, khususnya daerah yang rawan karhutla. Ia memberikan edukasi kepada warga tentang pentingnya menjaga hutan, teknik membuat sekat bakar, dan penggunaan alat komunikasi darurat melalui jaringan RAPI.
Kehadiran Hotman sebagai jurnalis sekaligus relawan lapangan mendapat respons positif dari warga. kerap diminta pendapat oleh tokoh-tokoh lokal terkait mitigasi bencana lingkungan. “Kami butuh sosok seperti Pak Hotman, yang tidak hanya bicara di media, tapi juga hadir di lapangan,” ujar salah satu tokoh adat di Kecamatan Nainggolan.
Hotman bermimpi membentuk tim kecil relawan Manggala Agni tingkat desa yang terdiri dari pemuda-pemudi lokal. Ia yakin, pelibatan generasi muda akan memperkuat upaya pelestarian hutan jangka panjang. Ia juga berharap agar jurnalis lain ikut mengambil peran lebih aktif dalam isu-isu lingkungan.
“Kalau kita diam, hutan habis. Tapi kalau kita bersuara dan bertindak, perubahan itu mungkin,” pungkasnya.















