Example floating
Example floating




Berita

Dari IT Del ke TSTH2: “Mimpi Besar, Tantangan Lebih Besar”

48
×

Dari IT Del ke TSTH2: “Mimpi Besar, Tantangan Lebih Besar”

Sebarkan artikel ini

Toba, Sinar24jam.com –

Dalam kampus Institut Teknologi Del (IT Del), suasana terasa hangat oleh kehadiran para tokoh penting. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan pengarahan kepada sejumlah gubernur, bupati, serta civitas akademika. Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Bupati Humbahas Dr Oloan P Nababan, Bupati Toba, serta wakil bupati dari beberapa kabupaten tampak serius menyimak. Rabu,(16/4/2025).

Pesan-pesan yang disampaikan Luhut, tentang pertumbuhan ekonomi, pembangunan SDM, hingga strategi pertanian berbasis teknologi, memang terdengar menjanjikan. Terlebih dengan sorotan pada proyek ambisius seperti Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Humbang Hasundutan, yang dikunjungi sehari sebelumnya.

Namun, di balik semua narasi besar ini, masyarakat bertanya dalam diam: sudah sejauh mana dampak riil dari semua ini terasa di kehidupan mereka?

Sumatera Utara memang kaya—dari hasil pertanian, potensi energi terbarukan, hingga warisan budaya. Tapi petani di lereng-lereng Siborongborong dan Pollung belum tentu tahu atau merasakan apa itu TSTH2. Mereka masih berkutat dengan harga pupuk yang tak menentu, akses ke pasar yang lemah, dan cuaca yang kian sulit ditebak. Maka, narasi besar seperti TSTH2 akan menjadi hiasan saja jika tak menjangkau akar persoalan.

Begitu pula dengan IT Del, kampus yang dibangun dengan visi besar ini sejatinya punya potensi untuk menjadi pusat inovasi kawasan. Tapi tugas besar belum selesai. Inovasi tidak hanya soal teknologi, tetapi bagaimana teknologi itu menjawab kebutuhan nyata di desa-desa sekitar.

Menarik mendengar Gubernur Maluku Utara yang secara terbuka mengakui kesulitan di wilayahnya, lalu meminta bantuan dari Sumut dan IT Del. Ini bukan tanda kelemahan, tapi keberanian melihat realitas. Kerja sama antardaerah harus dilandasi kerendahan hati dan semangat belajar bersama.

Paparan ilmiah dari Prof Sri Fatmawati dari ITS Surabaya turut memperkaya diskusi. Di tengah gempuran kebijakan dan politik, suara akademik adalah napas panjang yang dibutuhkan pembangunan. Tanpa riset yang jujur, tanpa kritik yang sehat, pembangunan akan kehilangan arah.

Kunjungan ini memang bukan sekadar seremoni. Tapi semoga juga bukan sekadar retorika. Publik menunggu bukan hanya data dan paparan, tapi bukti nyata: apakah harga cabai bisa lebih stabil? Apakah anak petani bisa kuliah tanpa harus jual tanah? Apakah teknologi herbal bisa benar-benar masuk pasar nasional?

Mimpi besar itu perlu. Tapi keberanian mengakui tantangan jauh lebih penting. Karena perubahan bukan hanya dimulai dari atas podium, tetapi dari keberanian menyentuh tanah di ladang yang becek.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *