Belawan Sumatera Utara, Sinar24jam.com–
Pembangunan proyek pintu air di Kelurahan Bahari, Belawan, menuai protes keras dari Gereja F-Gen CINTADEL GPK. Pihak gereja merasa dirugikan akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh proyek tersebut, baik terhadap bangunan gereja maupun aktivitas ibadah jemaatnya.
Salah satu permasalahan utama yang dikeluhkan adalah terganggunya akses menuju gereja. Proyek yang sedang berlangsung telah membuat jalan menuju rumah ibadah ini sulit dilalui, menyulitkan jemaat yang ingin beribadah. Tidak hanya itu, getaran alat berat yang digunakan dalam pembangunan juga mengakibatkan kerusakan pada bangunan gereja, termasuk munculnya retakan di beberapa bagian.
“Kami sangat mendukung pembangunan infrastruktur yang bertujuan untuk kepentingan umum. Namun, pemerintah seharusnya melakukan koordinasi lebih baik agar tidak merugikan tempat ibadah dan masyarakat sekitar,” ujar salah satu pengurus gereja dengan nada kecewa.
Selain kerusakan fisik, kebisingan dari alat berat yang beroperasi sepanjang hari juga menjadi masalah serius. Jemaat gereja mengeluhkan sulitnya menjalankan ibadah dengan khusyuk, terutama pada hari Minggu, karena suara bising dari pekerjaan proyek yang tidak memperhatikan waktu-waktu ibadah.
Minimnya Respons Pemerintah dan Ancaman Penutupan Akses
Pihak gereja telah mengajukan keberatan secara resmi kepada pemerintah setempat dan pihak pengembang proyek, tetapi hingga kini belum ada tanggapan yang jelas maupun langkah konkrit untuk mengatasi masalah ini. Jika keluhan mereka terus diabaikan, pihak gereja mempertimbangkan untuk menutup akses jalan menuju proyek sebagai bentuk protes.
Keadaan ini mencerminkan lemahnya koordinasi antara pemerintah, pengembang proyek, dan masyarakat terdampak. Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Kepentingan Umum, pemerintah diwajibkan untuk mengutamakan komunikasi dan solusi yang adil bagi pihak yang terkena dampak. Namun, dalam kasus ini, tampak jelas bahwa aspek sosial dan keagamaan tidak dipertimbangkan secara serius.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak berwenang masih bungkam terhadap keluhan gereja dan masyarakat sekitar. Sikap abai ini memicu keresahan di kalangan jemaat serta warga yang berharap adanya solusi adil tanpa ada pihak yang dikorbankan. Jika pemerintah tetap diam, tidak menutup kemungkinan konflik sosial akan semakin memanas.















