Example floating
Example floating




Berita

Petir di Sawah Paranginan: Dua Nyawa Melayang

109
×

Petir di Sawah Paranginan: Dua Nyawa Melayang

Sebarkan artikel ini

HUMBAHAS, Sinar24jam.com— Langit sore di Dusun I, Desa Lumban Barat, Sabtu (9/8/2025) itu tak hanya membawa hujan. Awan hitam yang menggantung rupanya menyembunyikan amarah alam yang tak terduga. Pukul 15.30 WIB, suara petir menggelegar, memecah keheningan sawah, dan sekejap mengubah dua keluarga menjadi rumah duka.

Janner Siregar (62) dan Marusaha Siregar (50), dua buruh tani asal Dusun IV, Desa Lobutolong Habinsaran, meregang nyawa di tengah jeritan deras hujan. Bersama empat rekan lainnya, mereka baru saja menanam padi di lahan milik Jabattas Sianturi. Kala langit mulai menitikkan hujan, mereka berlari kecil menuju sebuah saung reyot di tepi sawah—tempat para petani biasa mengusir lelah.

Namun, alih-alih reda, hujan membawa petaka. Kilatan cahaya putih menyambar, diikuti suara gelegar yang mengguncang dada. Tubuh Janner dan Marusaha terkulai, tanpa sempat mengucap kata terakhir. Teman-teman mereka, Rianto Sianturi (32), Jamintan Siburian (50), Zorkom Sihombing (50), dan Hotma Siburian (60), panik berlarian, memanggil pertolongan. Kedua korban dibawa ke Puskesmas Paranginan, lalu dirujuk ke RS Santa Lucia, Siborongborong. Namun, Tuhan rupanya lebih cepat memanggil.

Kapolsek Lintongnihuta, AKP TLP Marbun, mengonfirmasi keduanya meninggal dunia. Petang itu, jasad mereka pulang bukan dengan langkah kaki, melainkan di atas mobil bak terbuka, disambut tangis keluarga di Dusun IV.

Di rumah duka pertama, seorang anak perempuan duduk di sudut, memeluk erat tas sekolahnya. Dia adalah salah satu dari dua anak almarhum Marusaha, yang kini yatim piatu. Ibunya telah lama pergi, dan kini sang ayah menyusul, meninggalkan dua bocah yang masih duduk di bangku SD dan SMP.

“Anak-anak ini kini benar-benar sendiri. Mudah-mudahan ada hati yang tergerak membantu agar mereka tetap bisa sekolah,” ujar Kepala Desa Lobutolong Habinsaran, Suparna Gianto Sianturi, dengan suara berat.

Tak jauh dari sana, di rumah duka kedua, istri Janner menatap kosong ke arah foto suaminya yang kini dihiasi bunga duka. Empat anak dan satu menantu duduk bersisian, mencoba menahan isak. Hidup mereka memang tak pernah bergelimang, namun kini beban semakin berat tanpa sosok kepala keluarga.

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *