Example floating
Example floating




Berita

HUT Humbang Hasundutan Ke-22: Patung Terlupakan di Bukit Inspirasi, Saksi Bisu yang Merindukan Perhatian

78
×

HUT Humbang Hasundutan Ke-22: Patung Terlupakan di Bukit Inspirasi, Saksi Bisu yang Merindukan Perhatian

Sebarkan artikel ini

HUMBAHAS, Sinar24jam.com – Ribuan orang berbondong-bondong merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Kabupaten Humbang Hasundutan dengan gegap gempita di Bukit Inspirasi, Senin (28/7/2025). Panggung megah, tarian meriah, dan sambutan pejabat bersahut-sahutan. Namun, di tengah kemeriahan itu, ada satu sudut yang sunyi dalam diam, terabaikan, tapi menyimpan cerita yang tak kalah penting: tiga patung di gapura masuk Bukit Inspirasi.

Seorang pria tua berdiri sendiri, memandangi patung-patung itu. Dua patung kuda putih kiri dan kanan yang dulunya berdiri gagah, kini kusam oleh debu dan waktu. Di tengah atas gapura, duduk patung seorang pria tua dengan sorot mata kosong, seolah menyapa siapa pun yang lewat… tapi tak pernah benar-benar disapa balik.

“Sudah lama saya tidak melihat orang berhenti di sini. Padahal dulu, semua orang bangga dengan patung ini,” lirih suara pria itu, hampir tak terdengar. Matanya tak lepas dari patung tua yang kini tampak muram, bagai menyimpan luka yang tak pernah terucapkan.

Patung-patung ini dibangun pada masa Bupati Makdin Sihombing, sebagai simbol kekuatan, semangat, dan kebanggaan warga Humbahas. Tapi kini, mereka seperti tubuh yang menua tanpa sentuhan cinta. Dibiarkan, dilupakan, berdiri dalam sunyi di antara lalu lalang manusia yang seolah tak lagi mengenalnya.

“Kalau patung itu bisa bicara, mungkin dia akan berkata: ‘Aku pernah jadi kebanggaan kalian,’ sebelum akhirnya diam karena kecewa,” ujar seorang pemuda yang kebetulan berhenti setelah melihat si pria tua berdiri lama di sana.

Gapura itu dilewati setiap hari oleh pegawai, pejabat, dan tamu-tamu daerah. Tapi tidak ada yang berhenti barang sejenak. Tidak ada yang menengok, apalagi merawat. Padahal, dulunya, setiap ukiran dan bentuknya punya cerita: tentang perjuangan membangun daerah, tentang harapan, inspirasi dan tentang mimpi.

Kini, yang tersisa hanya debu dan diam.

Lebih dari sekadar estetika, keprihatinan ini menyentuh urat nadi sebuah pertanyaan besar: apakah kita masih peduli pada sejarah dan simbol yang pernah menjadi bagian dari jati diri kita?

Patung kuda yang dulu mencerminkan keberanian, kini berdiri dalam kesepian. Patung orang tua yang semestinya memberi inspirasi, kini malah mengundang iba. Seperti menggambarkan masyarakat yang perlahan kehilangan hubungan dengan akarnya sendiri.

“Bukankah perayaan seharusnya juga mengenang apa yang pernah kita banggakan?” tanya pria tua itu pelan, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan patung yang terus duduk di sana, menunggu. Entah sampai kapan.

Warga berharap ada kepedulian. Bukan hanya soal cat dan kebersihan, tetapi soal menghidupkan kembali makna. Agar patung-patung ini tak lagi jadi saksi bisu yang menangis dalam diam, tapi kembali menjadi lambang semangat yang menyala seperti dulu, ketika segalanya masih baru dan penuh harapan.

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *