Example floating
Example floating




Berita

Menjelang Ramadan, Masyarakat Tapanuli Utara Sibuk Mengolah Kolang-Kaling

63
×

Menjelang Ramadan, Masyarakat Tapanuli Utara Sibuk Mengolah Kolang-Kaling

Sebarkan artikel ini

Tapanuli Utara, Sinar24jam.com –

Suasana di beberapa desa di Kabupaten Tapanuli Utara, seperti di Kecamatan Sipahutar, Kecamatan Pangaribuan, dan di Kecamatan Garoga, tampak lebih sibuk dari biasanya menjelang bulan Ramadan. Para petani dan pengrajin kolang-kaling bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan yang melonjak setiap tahun.

Aroma khas buah aren yang direbus tercium di berbagai penjuru kampung, menandakan proses produksi sedang berlangsung.
Bagi masyarakat di wilayah ini, pembuatan kolang-kaling bukan sekadar pekerjaan musiman, tetapi juga akan menjadi tradisi yang akan diwariskan dari generasi ke generasi.

JR Pasaribu, seorang pengrajin kolang-kaling di Pangaribuan, mengisahkan bagaimana keluarganya telah mengolah biji aren setiap tahun.

“Dulu orang tua kami sudah terbiasa membuat kolang-kaling menjelang Ramadan. Permintaannya selalu tinggi, jadi kami semua turun tangan, dari yang muda sampai yang tua,” ujarnya sambil terus memipihkan kolang-kaling yang baru diambil dari buahnya.

Proses Panjang yang Butuh Ketelatenan

Pembuatan kolang-kaling dimulai dengan memanen buah aren yang setengah tua dari pohonnya yang menjulang tinggi. Setelah dikumpulkan, buah-buah itu direbus selama sekitar 30 menit agar getahnya hilang. Setelah dingin, kulitnya dibelah untuk mengeluarkan biji berwarna putih transparan yang kemudian dipipihkan menggunakan palu kayu agar lebih empuk.

Setelah tahap ini, biji kolang-kaling harus direndam dalam air bersih selama 2–3 hari. Proses perendaman ini bertujuan untuk menghilangkan sisa getah, menjaga tekstur tetap kenyal, serta memastikan kolang-kaling lebih tahan lama sebelum akhirnya dijual ke Toke ataupun ke pasar.

Permintaan Tinggi Saat Ramadan

Setiap menjelang Ramadan, pasar kolang-kaling di daerah ini selalu ramai pembeli. Banyak pengrajin dan Toke memasok kolang-kaling ke kota-kota besar di Sumatera Utara, seperti Medan, Pematang Siantar, Sibolga, Padang Sidempuan (Tapsel) juga sampai ke Pulau Jawa.

Manfaat Kolang-Kaling untuk Kesehatan

Selain menjadi hidangan favorit saat berbuka puasa, kolang-kaling juga memiliki manfaat kesehatan yang tidak bisa diremehkan. Kandungan seratnya baik untuk pencernaan, sementara kadar airnya yang tinggi membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi selama berpuasa. Selain itu, kolang-kaling juga kaya akan kalsium, yang bermanfaat untuk kesehatan tulang.

Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

Bagi masyarakat Tapanuli Utara, produksi kolang-kaling bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga sumber penghasilan yang membantu meningkatkan perekonomian. Banyak keluarga yang bergantung pada hasil penjualan kolang-kaling untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat Ramadan ketika permintaan sedang tinggi.

“Dengan membuat kolang-kaling, kami bisa mendapat tambahan pemasukan. Setidaknya cukup untuk kebutuhan selama bulan puasa dan Lebaran,” ujar JR Pasaribu dengan senyum penuh harapan.

Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan alami dan sehat, masa depan industri kolang-kaling di Tapanuli utara pun tampaknya semakin cerah. Tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang menjanjikan bagi warga setempat.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *